5/11/2009

Iman kita IV

Umat Katolik Hidup Dalam Pluralitas Iman


Sekitar bulan September thn 2007 di sebuah lembah di kawasan Cipanas Puncak, Bogor, ratusan orang melakukan demonstrasi terhadap kegiatan keagamaan yang di selenggarakan oleh Rm. Yohanes, OCarm. Mereka adalah organisasi kemayarakatan berbasis agama yang merasa keberatan dengan keberadaan tempat ibadah umat Kristiani (Katolik) di lokasi tersebut (Detik.com-red). Namun pada akhirnya, aksi itu pun reda berkat campur tangan pihak-pihak yang berkompeten.

Apapun alasannya, aksi ini telah memberikan noda dalam kehidupan umat beragama di Indonesia. Di alam demokrasi yang memberikan ruang kebebasan mengemukakan pendapat, tindakan dari ratusan orang tersebut seolah-olah mementahkan kembali dialog antar umat beragama yang selama ini telah berjalan baik.

Pluralisme dan Kebebasan Iman
Menelaah kejadian demontrasi oleh beberapa kalangan agamis tersebut di atas, sangat disayangkan bahwa nilai-nilai toleransi dan hak asasi untuk mengimani Tuhan dicederai. Keyakinan bahwa iman dan keselamatan merupakan pilihan pribadi setiap individu yang paling mendasar menjadi tidak ekslusif lagi. Dalam pandangan Gereja Katolik, kehendak bebas untuk memilih dan memiliki iman adalah hak eksklusif setiap manusia. Kita bisa baca dari Katekismus Gereja Katolik no.160 mengenai kebebasan iman: “Supaya iman itu manusiawi, ‘manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk memeluk iman. Sebab pada hakikatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas’" (bdk. Deklarasi Konsili Vatikan II mengenai Kebebasan Beragama, Dignitatis Humanae atau DH art. 10).

Katekismus mengajarkan nilai-nilai hakiki. Dalam kutipan katekismus di atas, terlihat jelas bahwa ada perbedaan tajam antara dua paham. Katekismus yang dikeluarkan oleh Gereja selaku pemegang ajaran moral dan iman Katolik, menekankan penghargaan pada kehendak bebas manusia yang dimiliki setiap individu. Selanjutnya Katekismus mengatakan, “Allah memanggil manusia untuk mengabdi diriNya dalam roh dan kebenaran. Maka ia juga terikat dalam suara hati, tetapi tidak dipaksa ... Adapun itu nampak paling unggul dalam Kristus Yesus" (DH 11). Kristus memang mengundang untuk beriman dan bertobat, tetapi sama sekali tidak memaksa, "Sebab Ia memberi kesaksian akan kebenaran, tetapi tidak mau memaksakan kepada mereka yang membantahnya. KerajaanNya tidak dibela dengan menghantam dengan kekerasan, tetapi dikukuhkan dengan memberikan kesaksian akan kebenaran serta mendengarkannya. Kerajaan itu berkembang karena cinta kasih, cara Kristus yang ditinggikan disalib menarik manusia kepada diriNya" (DH 11).

Pluralisme agama mendorong manusia untuk menyadari adanya keragaman dan perbedaan yang harus dihormati sebagai kenyataan yang ada di hadapan kita tanpa pemaksaan. Setiap orang bebas memilih apa yang ingin diimaninya dan apa yang tidak ingin diimaninya, memilih apa yang disukai dan apa yang tidak disukainya olehnya, bahkan bila seseorang ingin berpindah keyakinan. Dalam hal ini Gereja sangat menghargai dan menghormati kehendak-bebas manusia sebagai rahmat Ilahi yang tak tebantahkan. Dalam konteks iman tidak ada rumusan pemaksaan maupun tekanan untuk mempertobatkan iman seseorang.
Dalam pandangan teologi dari agama-agama bukan Katolik, kehendak bebas manusia tidak diajarkan secara tegas dan bahkan tidak diakui, sehingga bagi sebagian kaum agamis, kebebasan beragama dimana di dalamnya terdapat kehendak bebas untuk mengimani sesuatu (agama) menjadi penghalang untuk menyebarkan ajarannya. Hal ini seringkali menimbulkan gesekan-gesekan yang merangsang terjadinya kekerasan agama. Sikap saling curiga masih merupakan salah satu faktor pemicu tindakan penekanan bagi kaum beragama lain yang mungkin kebetulan minoritas. Selain itu sarkasme juga merupakan faktor lain yang memancing tindakan-tindakan kekerasan.

Cinta kasih sumber iman Katolik
Sebagai komunitas para pengikut Kristus yang setia, entah menjadi kelompok mayoritas ataupun minoritas, yang hidup dalam pluralitas iman, umat Katolik pasti mengharapkan hidup dalam kerukunan dan kedamaian. Dalam sikap hidup sehari-hari kita berusaha untuk tetap manjaga toleransi dan sikap hormat-menghormati. Karena inilah aspek penting bagi iman kita agar dapat tumbuh dan berkembang sewajarnya.
Yesus dalam kesaksian akan kebenaran memang menginginkan setiap orang dapat bersatu dengan Allah dalam Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik, karena Ia telah melaksanakan dan menyatakan misteri kebenaran itu melalui wafat dan kebangkitanNya sebagai keputusan Allah yang nyata bagi keselamatan kita umat manusia. Kristus adalah kepala Gereja, dan Gereja adalah mempelainya maka sewajarnya bila setiap kita dituntut untuk tetap memegang kesaksian Kristus untuk menarik setiap jiwa-jiwa pada jalan keselamatan yaitu Kristus dan Gerejanya (bdk Mat 16:18-19). Namun kita sebagai manusia, dalam memberi kesaksian iman seringkali terjebak dalam sikap tertutup, yang menggiring kita pada kesombongan iman. Entah lupa atau tak disengaja, kesombongan iman ini sering membuat kita tidak sadar akan keberadaan umat beragama lain di sekitar kita. Sikap ini membawa kita pada aksi yang mungkin bagi umat lain menyinggung perasaan. Inilah yang patut dihindari karena Yesus sendiri tidak mau memaksakan kepada mereka yang membantahnya. Ia sendiri mengatakan bahwa “KerajaanNya tidak dibela dengan menghantam dengan kekerasan, tetapi dikukuhkan dengan memberikan kesaksian akan kebenaran serta mendengarkannya. KerajaanNya berkembang karena cinta kasih, dengan cara Kristus yang ditinggikan di salib (untuk) menarik manusia kepada diriNya" (DH 11). Kasih adalah inti ajaran yang yang diwariskan oleh Tuhan kita dan harus dilanjutkan oleh kita untuk dilaksanakan.

Pewartaan iman dalam keragaman agama
Dalam keberagaman keyakinan, mewartakan iman seyogyanya tidak boleh dengan cara-cara berlebihan. Sebagai contoh, dengan cara mempresentasikan injil dari pintu ke pintu seperti yang sering dipraktekkan beberapa aliran keagamaan dewasa ini. Iman yang ditawarkan Kristus bukan iman ala multilevel marketing. Memang benar bahwa penyebaran iman Kristiani pada awal mula tidak lepas dari peran para rasul yang senantiasa memberi kesaksian iman dengan kesaksian secara terbuka (pintu ke pintu). Namun itu harus dilihat dalam konteks sejarah, tradisi, maupun budaya dan cara hidup jaman dulu, dimana tugas perutusan Kristus dimulai.

Dalam dunia modern dengan aneka agama, menjadi saksi Kritus akan lebih nyata dan berguna bila ditunjukkan dengan perbuatan dan cara hidup yang meneladani Kristus. Menyebarkan cinta kasih dalam tindakan kasih yang tulus bagi sesama akan lebih mudah mendapatkan simpati dan kepercayaan orang lain. Pemaksaan dan kesaksian iman dengan cara-cara yang berlebihan akan sangat mudah menimbulkan ketersinggungan dan bahkan amarah. Pemaksaan bukanlah cara bertindak Allah, karena itu bertentangan dengan kodratNya yang adalah Cinta. Kristus akan tampak lebih nyata bagi mereka yang menerimaNya dalam pelayanan berlandaskan cinta kasih yang tulus

No comments:

Lencana Facebook