12/17/2007

Bintang Bethlehem dan Kelahiran Sang Raja




“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

Imanuel, Allah beserta kita. Ia datang bukan hanya untuk orang-orang hebat. Ia tidak datang hanya untuk orang-orang yahudi, atau para petinggi agama.

Ia datang buat orang-orang berdosa, buat orang-orang yang termarjinalkan dalam kehidupan dunia. Kaum gembala bukan orang-orang yang dianggap punya status dalam masyarakat saat itu. Mereka hanyalah kaum marjinal… namun kepada merekalah malaikat mengabarkan kedatangan Yesus. Not just that. Yang datang menemui Yesus selain gembala adalah orang- orang Majus. Orang-orang Majus ini merupakan kaum non Yahudi yang datang dari bangsa Persia dan merupakan orang bijak (atau imam?) beragama Majusi.

Di dalam Alkitab, kata Majus mulai muncul di kitab Daniel (1:20, 2:27, 5:15), ditujukan buat orang-orang bijak, para imam dari Madai, Persia dan Babilonia. “Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ‘ahli jampi’ (Ibrani: ‘ASYAF; Yunani: ‘MAGOS’) di seluruh kerajaannya.” (Daniel 1:20)

Disini kata Magos dikenakan untuk golongan orang bijaksana atau ahli astrologi yang mentafsirkan mimpi atau pesan-pesan dari para “illah”. Namun dalam Perjanjian Baru, kata Magos diperluas dan ditujukan juga pada nabi palsu, ahli sihir, ahli nujum, dan sejenisnya (Kisah 8:9; 13:6,8 ). “Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir (’MAGOS’) dan nabi palsu.” (kisah 13:6)

Orang-orang Majus memang para imam yang belajar tentang ilmu perbintangan. Bukan hal asing kalau mereka selalu mengamati pergerakan bintang-bintang, dan menafsirkannya berdasarkan kepercayaan mereka. Bukan hal aneh kalau pada masa itu orang percaya dengan mitos dan hal-hal berbau magis. Karena pada kenyataannya pergerakan benda langit mempengaruhi kebudayaan dunia.

Sebagai orang-orang yang memang mempelajari langit, tentunya kehadiran bintang terang bukanlah hal aneh, apalagi dengan cerahnya langit masa itu yang belum terkontaminasi cahaya kosmik lainnya dari lampu-lampu kota. Tapi dalam kasus ini, tentu bintang yang dilihat ini sesuatu yang seharusnya memberi makna lain dari pergerakan benda langit.

Dalam rentang tahun kelahiran Yesus, ada beberapa kejadian astronomi yang bisa diasosiasikan sebagai bintang terang itu. Yesus lahir dimasa pemerintahan Herodes. Dari sejarah modern, diketahui Herodes meninggal pada kisaran tahun 4SM dan 1 SM, sementara orang Majus menjumpai Yesus sebelum kematian Herodes. Dari runutan kejadian dalam astronomi disekitar tahun yang dianggap sebagai prediksi kelahiran Yesus, waktu kemunculan bintang Betlehem tersebut berada pada kisaran tahun 7 SM - 2 SM. Jadi dalam rentang waktu inilah kita akan mencoba melihat kejadian yang tak biasa di langit yang mungkin saja menarik perhatian orang-orang Majus tersebut.

Dalam Matius 2:1-2 dikatakan “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Jerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Selama rentang waktu tahun 7 SM - 1 SM, tercatat peristiwa supernova, komet, meteor, okultasi Jupiter dengan Bulan, maupun konjungsi beberapa planet. Jika kita telaah satu per satu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjadi syarat bintang Betlehem. Menurut Matius yang menjadi syarat bintang Betlehem, bintang tersebut terlihat di timur dan mendahului orang Majus serta berhenti diatas kota Betlehem. Berarti penampakan bintang tersebut tidak pernah tetap, namun ada saat penampakan tersebut diam untuk beberapa waktu. Syarat lainnya, bintang tersebut punya kaitan atau “kepercayaan” dengan orang Yahudi serta mengindikasikan kelahiran serta keagungan. Hal lainnya yang harus diperhatikan, Herodes tidak bisa dengan mudah mengenali bintang tersebut karena didalam Matius dikatakan, ia meminta orang Majus untuk mengenalinya.

Dari berbagai kandidat bintang bethlehem, ada dua kejadian menarik yang secara astronomi maupun mitologi bisa dikaitkan dengan kehadiran seorang Raja.

Konjungsi Jupiter - Saturnus
Salah satu kandidat bintang Betlehem adalah peristiwa konjungsi Planet, dimana dua atau lebih objek langit terlihat berdekatan di angkasa Contohnya adalah Gerhana Matahari total, saat bulan matahari berada pada satu garis. Memang, dalam konjungsi, objek-objek yang berkonjungsi tidak selalu tepat berada dalam satu garis, namun bagi pengamat di Bumi yang melihatnya dengan mata bugil, objek-objek tersebut akan tampak sebagai satu titik yang terang. Sepanjang rentang waktu 7 SM dan 1 SM, terjadi beberapa kali konjungsi planet.

Di sepanjang tahun 7 SM, terjadi 3 kali konjungsi yang melibatkan Jupiter dan Saturnus di konstelasi Pisces (Ikan) dimulai dengan konjungsi pertama pada tanggal 29 Mei, kemudian diikuti konjungsi kedua pada 1 oktober dan yang ketiga 4 Desember. Setelah itu pada Februari 6 SM, terjadi lagi konjungsi antara Mars, Jupiter dan Saturnus yang terjadi setiap 805 tahun. Dalam konjungsi pertama di tahun 7 SM, Jupiter dan Saturnus baru terbit setelah lewat tengah malam, sehingga akan tampak di arah timur sebelum Matahari terbit. Pada konjungsi kedua, kedua planet terbit saat Matahari terbenam dan akan terlihat sepanjang malam. Selang waktu terjadinya konjungsi memungkinkan para Majus melakukan perjalanan dari Timur menjumpai Herodes, setelah melihat bintangNya di timur (Mat 2:2).

Tak bisa dipungkiri kalau kelahiran seseorang di masa itu seringkali dikaitkan dengan tanda-tanda tertentu di langit. Nah, pada masa itu konjungsi Jupiter (mag -2.5) dan Saturnus (mag 0.8) bisa dikatakan merupakan tanda ideal kehadiran raja baru. Jupiter dikenal sebagai “Planet of Kings” sementara Saturnus dikenal sebagai “Protector of Jews” (Pelindung bangsa Yahudi), memberi indikasi kedatangan “Raja yang akan melindungi seluruh bangsa Yahudi”.

Bagi astrolog jaman dahulu, konstelasi Pisces (ikan) dikenal sebagai rumah bangsa Ibrani, Jupiter merupakan “ruler of the universe” dan Saturnus diasosiasikan dengan Palestina. Hal ini memberi kesan kalau konjungsi tersebut merupakan pertanda “King of Israel and Ruler of a Universe about to be born in Israel” . Yang perlu diingat dan ditandai, peristiwa konjungsi Jupiter Saturnus sangatlah jarang, dan hanya terjadi dalam interval waktu antara 40 - 338 tahun. Tentulah kejadian ini akan dianggap spektakuler oleh orang-orang yang mempelajari benda-benda langit dan mulai mengasosiasikannya dengan suatu kejadian. Bagi orang-orang Majus yang juga mengenali sejarah Bangsa Yahudi dan kepercayaannya. kejadian ini menjadi pertanda kalau Mesias yang dinubuatkan akan lahir dan menyelamatkan bangsa Yahudi.

Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.”(Matius 2:9)

Setelah bertemu Herodes, orang-orang Majus kemudian menuju kota Betlehem di arah selatan. Dalam pengamatan mereka, bintang yang mereka lihat di Timur sudah bergerak mendahului mereka dan berhenti di atas kota Betlehem. Pada pertemuan pertama Jupiter dan Saturnus memang terlihat di timur setelah lewat tengah malam, namun saat terjadi konjungsi kedua dan ketiga ( Oktober dan desember 7 SM) keduanya akan tampak berada di zenith (titik tertinggi yang dicapai dalam gerak harian benda langit) setelah matahari terbenam. Hal inilah yang menyebabkan kedua planet ini seolah-olah berhenti di atas langit kota Betlehem, memberi tanda pada orang Majus kalau sang Raja itu ada disana, terbaring di palungan dalam balutan kain lampin (atau kain kafan).

Pertemuan Raja Planet dan Raja Bintang
Kandidat lainnya muncul pada kisaran tahun 3SM- 2SM di saat perayaan Tahun Baru Yahudi, Rosh ha-Shanah. Saat itu di bulan September saat orang Majus mengamati langit, tampak Jupiter memulai proses konjungsinya dengan bintang Regulus.

Regulus berasal dari kata Regal, orang Babilon menyebut Regulus “Sharu” yang berarti raja. Orang Roma menyebutnya Rex, yang juga berarti raja. Dan di awal tahun Yahudi, “Planet of Kings” bertemu dengan “Star of Kings”. Yang menarik, saat itu Jupiter bergerak berlawanan dengan gerak bintang. Aneh? Well, gerak inilah yang kita kenal sebagai gerak retrograde. Mungkin gerak retrograde Jupiter inilah yang menarik perhatian orang Majus, karena setelah mengalami konjungsi dengan jarak terdekatnya dari Regulus, Jupiter memasuki masa gerak retrogradenya. Tapi kemudian, Jupiter berubah pikiran dan kembali bergerak mendekati Regulus dan mengalami konjungsi kedua. Setelah pertemuan kedua, Jupiter kembali berbalik arah dan bertemu untuk ketiga kalinya dengan Regulus. Maka terjadilah triple conjunction. Kejadian seperti ini sangatlah jarang, dan setelah beberapa bulan yang terlihat Raja Planet ini sedang menari halo di atas Regulus. Laksana penobatan sang raja.

Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”(Wahyu 5:5)

Bukan hanya itu. pertemuan Jupiter dan Regulus sendiri berlangsung di konstelasi Leo, yang berlambang singa dan diasosiasikan dengan bangsa Yehuda. Dan Singa Yehuda sendiri merupakan perlambangan dari Yesus, Mesias yang akan datang dari bangsa Yehuda. Fenomena alam ini sepertinya memberi pertanda akan kedatangan Raja Yahudi. Inilah yang bisa jadi menjadi alasan orang Majus mengikuti bintang terang tersebut menuju Bethlehem menemui Yesus. Tuhan memakai kejadian sehari-hari yang biasa ditemui orang Majus untuk membawa mereka datang kepada Kristus. Kejadian alam yang diasosiasikan dengan kepercayaan setempat membawa kesimpulan akan kelahiran seorang Raja ditengah mereka.

Persembahan Orang Majus
Orang-orang Majus, imam dari agama Majusi yang dikenal sebagai orang-orang bijak, melihat dan mempelajari arti kelahiran bintang itu lantas datang kepada Yesus di palungan membawa persembahan emas, kemenyan dan mur. Ini unik, karena dalam pentafsiran, mereka ternyata tidak hanya melihat kelahiran seorang Raja tapi juga melihat lebih dari itu. Emas memberi perlambangan persembahan kepada seorang Raja, Kemenyan sebagai persembahan kepada seorang Imam yang menunjukkan kehadiran Yesus sebagai Imam Besar serta Mur sebagai lambang kematian yang menunjukkan nubuatan kematian Yesus di kayu salib. Dan itu dibawa oleh orang-orang non Yahudi, suatu hal yang sangat indah yang sedang dinyatakan Tuhan. Ia datang bukan sebagai raja suatu bangsa saja, namun Raja diatas segala raja. Bukan kepada orang kudus, tapi kepada orang berdosa. Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib melainkan orang sakit. Untukmu, untukku dan untuk kita semua.

Kisah Bintang Bethlehem sendiri sampai saat ini masih tetap menjadi misteri yang menarik. Mungkin kita perlu memasuki lorong waktu ke masa lalu untuk mendapatkan sebuah kepastian. Namun diantara misteri dan ketidakpastian itu…. satu hal yang pasti, kemuliaan Allah dinyatakan diantara bangsa-bangsa lewat kehadiran peristiwa alam,budaya, dan mitologi masyarakat zaman itu.

Imanuel… Allah beserta kita…sama seperti janjiNya.. Aku akan menyertai engkau sampai dengan akhir zaman.

Merry Christmas

No comments:

Lencana Facebook