4/11/2009

Iman kita II

Kardinal Joseph Ratzinger kelahiran Marktl am Inn, Bavaria, Jerman, Sabtu, 16 April 1927, terpilih sebagai Paus ke-265, pemimpin Gereja Katolik Roma, menggantikan Paus Yohanes Paulus II yang wafat pada 2 April 2005. Setelah terpilih Selasa 19 April 2005 yang ditandai mengepulnya asap putih dari cerobong Kapel Sistina di Basilika Santo Petrus, dia memilih nama Paus Benediktus XVI.

Nama kepausan itu akan disandangnya hingga akhir hayat. Joseph Ratzinger yang merupakan orang Jerman ke-8 yang menjadi Paus, akan memimpin 1,2 milyar umat Katolik di seluruh dunia. Ia sekaligus akan bertindak sebagai Kepala Negara Tahta Suci Vatikan, berkedudukan di Roma, Italia.

Adalah Kardinal Jorge Medina Estevez dari Cile yang mengumumkan pertamakali nama Paus yang baru terpilih itu, langsung dari balkon Basilika Santo Petrus, ke khalayak ramai yang jumlahnya ratusan ribu orang. Khalayak sudah sejak hari Senin (18/4/2005) memadati halaman.

“Habemus Papam…” demikian petikan ucapan Jorge Medina, yang artinya kita telah memiliki Paus. Joseph Ratzinger terpilih menjadi Paus pada pukul 17.50 waktu Vatikan (hari Selasa, 19/4), atau menjelang tengah malam WIB (perbedaan waktu antara WIB dengan Vatikan lima jam).

Pilihan Kehendak Tuhan
Joseph Ratzinger adalah anak seorang polisi. Ia berasal dari keluarga petani tradisional. Penulis buku “Truth and Tolerance” ini menampakkan diri sebagai Paus untuk pertamakali juga dari balkon Basilika Santo Petrus, tak lama setelah dirinya diumumkan terpilih.

Kemunculan Ratzinger, dengan nama Paus Benediktus XVI, membuat gemuruh ratusan ribu massa pejiarah. Mereka selama dua hari penuh selalu dengan saksama mengamati apa warna asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina, hitamkah atau putih.

Dalam tradisi upacara pemilihan Paus, asap hitam yang muncul menandakan pemilihan belum tuntas. Sedangkan jika muncul asap putih itu pertanda Paus yang baru telah terpilih. Massa selain menyambut dengan suara gemuruh, juga mengelu-elukan pria yang murah senyum tersebut.

Ratzinger terpilih menjadi Paus pada pemungutan suara putaran keempat. Ke-115 kardinal dari 52 negara yang berhak memilih berhasil menunaikan tugas pemilihan dalam waktu ‘singkat’ saja, sekitar 24 jam. Mereka memilih dalam suasana doa dan mendasarkannya pada kehendak Allah, yang disebut Providentia Dei (Penyelenggaraan Ilahi), bukan dengan kampanye dan gembar-gembor janji.

Ratzinger mengungguli sejumlah nama yang sebelumnya sempat disebut-sebut sangat layak sebagai pemimpin umat Katolik Roma. Yakni Kardinal Camilo Ruini (74) dari Italia, dan Kardinal Maria Martini (usia di atas 70) seorang Jesuit yang dinilai bijaksana serta progresif.

Arus besar memang sudah sejak lama mengarah ke Ratzinger. Ia mengikuti jejak kemenangan Karol Wojtyla asal Polandia, yang pada 1978 terpilih dan menjadi Paus Yohanes Paulus II. Terpilihnya Karol ‘mematahkan’ tradisi lama yang sudah berlaku berabad-abad, tepatnya selama 455 tahun dimana setiap Paus selalu berasal dari kalangan ningrat Italia.

Kehadiran Paus Yohanes Paulus II di tahun 1978 membuka jalan dan kesempatan besar bagi calon Paus yang non-Italia. Kardinal pertama yang memanfaatkan ‘jasa’ Karol Wojtyla adalah Joseph Ratzinger, yang juga disebut-sebut sebagai orang pilihan yang sudah lama ‘dipersiapkan’ sebagai pengganti Paus Yohanes Paulus II. Tipe kepemimpinan keduanya memang sangat identik, sama-sama konservatif dan tradisional. Maklum, sudah 23 tahun Ratzinger bertindak selaku penasihat doktrin bagi Paus Yohanes Paulus II.

Terpilihnya Ratzinger merupakan pula wujud kehendak para kardinal untuk tetap mempertahankan sikap ortodoks dari Paus Yohanes Paulus II. Tetapi bersamaan itu, para kardinal sepertinya juga menghendaki agar Paus yang terpilih sudah dalam usia 78 tahun itu tidak usah terlalu lama menjabat seperti Paus Yohanes Paulus II selama 27 tahun, terlama dalam sejarah kepausan setelah era Paus Pius IX (1846-1978).

Pilih nama Benediktus XVII
Kardinal Joseph Ratzinger mempunyai nama panggilan “Panzerkardinal”. Kini dan untuk selanjutnya sebagai Paus ia akan sangat dikenal dengan sebutan baru Paus Benediktus XVI. Paus terakhir yang memakai nama itu adalah Kardinal Giacomo della Chiesa (asal Genoa, Italia), dengan sebutan Paus Benediktus XV (1914-1922).

Paus baru yang lahir dengan nama lengkap Joseph Alois Ratzinger (dalam bahasa Latin disebut Iosephus Ratzinger), di daerah pertanian Marktl am Inn, Bavaria, Jerman Selatan akan sangat dipercayai oleh 1,2 milyar umat Katolik di seluruh dunia sebagai Uskup Roma, “hamba dari segala hamba Allah”, penerus Santo Petrus, dan bertindak selaku Wakil Kristus di dunia.

Ratzinger berasal dari keluarga petani tradisional. Pada tahun 1937, ayahnya yang seorang polisi pensiun dan tinggal menetap di kota kecil Traunstein. Ketika berusia 14 tahun di tahun 1941 Ratzinger muda bergabung dengan Hitler Youth, mengikuti sesuai ketentuan hukum yang sudah berlaku sejak tahun 1938. Namun ia sangat tidak begitu antusias sebagai anggota. Ia suka menolak menghadiri berbagai pertemuan.

Tahun 1943 dalam usia 16 tahun ia berhenti dari sekolah sebab dipaksa mengikuti wajib militer, masuk dalam korps anti pesawat terbang. Ia bertangungjawab menjaga keamanan pabrik BMW yang terletak di luar kota Munich. Pabrik ini memproduksi mesin pesawat terbang dengan memanfaatkan tenaga kerja budak yang didatangkan dari kamp konsentrasi Dachau.

Ratziger kemudian memperoleh pelatihan dasar militer infantri di Kamp Infanteri Wehrmacht, ditempatkan di perbatasan Austria-Hungaria. Di sini ia bekerja menggunakan alat pertahanan anti-tank. Setelah kembali ke Bavaria pada Mei 1945, ia keluar dari dinas militer dan pulang ke kota kecil Traunstein.

Namun tak lama setelahnya ia ditangkap oleh tentara Sekutu, ditawan selama enam minggu di kamp interniran Allied POW. Baru pada bulan Juni ia berhasil melepaskan diri dari kamp. Selanjutnya bersama saudaranya Georg Ratzinger ia memasuki seminari Katolik. Pada 29 Juni 1951 ia ditahbiskan menjadi imam, juga bersama kakaknya itu, oleh Kardinal Faulhaber dari Munich.

Pada tahun 1953 Joseph Ratzinger berhasil membuat disertasi dengan judul tesis “The People and House of God in St. Augustine’s doctrine of the Church”, dan disertasi lanjutan tentang “Habilitationsschrift”, di Saint Bonaventure. Ia akhirnya memperoleh gelar doktor teologi pada 1957 dan diangkat menjadi profesor tahun 1958 di Kolese Freising.

Ratzinger adalah profesor di Universitas Bonn antara tahun 1959-1963. Ia kemudian pindah ke Universitas Munster. Tahun 1966 ia mengajar teologi dogmatik di Universitas Tubingen, yang membuatnya berkesempatan berkenalan dengan Hans Kung sebagai sesama kolega. Tahun 1969 ia kembali lagi ke Bavaria dan mengajar di Universitas Regensburg.

Joseph Ratzinger menjadi Kardinal sejak tahun 1977, diangkat oleh Paus Paul VI. Tokoh yang belakangan ini dikenal konservatif adalah profesor pada Universitas Bonn, antara tahun 1959-1963. Ia mengajar teologi dogmatik di Universitas Tubingen pada tahun 1966. Tahun 1969 ia kembali lagi ke Bavaria dan mengajar di Universitas Regensburs, setelah sebelumnya tahun 1965 diangkat menjadi profesor di situ.

Joseph Ratzinger pertamakali berkenalan dengan Kardinal Karol Wojtyla saat berlangsung Konsili Vatikan II (1962-1965). Saat itu Joseph Ratzinger sudah menjadi Peritus, atau Kepala Pakar Teologi untuk Kardinal Joseph Frings dari Cologne, Jerman.

Pada Konsili Vatikan II Ratzinger bersama-sama dengan Karol Wojtyla terlibat menyiapkan dokumen-dokumen yang dihasilkan dalam Konsili. Begitu Karol dipilih menjadi Paus pada tahun 1978, tiga tahun kemudian sejak 25 November 1981 Ratzinger ditarik ke Vatikan untuk memimpin Kongregasi Doktrin dan Iman. Ini, adalah suatu posisi sentral dalam Gereja Katolik Roma sebab berkaitan dengan ajaran tentang kebenaran-kebenaran iman. Tidaklah mengherankan jika kemudian ia disebut sebagai Paus “penjaga” iman umat Katolik di seluruh dunia.

Munculnya kembali Warga Jerman
Setelah menjabat Wakil Dekan Kolegia Kardinal sejak 1998, jabatan terakhir yang kemudian dipercayakan kepada Ratzinger adalah Dekan Kolegia Kardinal, berlaku sejak tahun 2002. Karena kedudukannya itulah Ratzinger bertindak memimpin acara pemilihan Paus 2005.

Pada konklaf 2005 Ratzinger adalah salah seorang dari 14 Kardinal yang pernah diangkat oleh Paus Paul VI. Namun hanya tiga orang diantaranya, salah satunya Joseph Ratzinger yang masih berusia di bawah 80 tahun sehingga berhak untuk dipilih menjadi Paus.

Maka para Kardinal pun memilih pria berusia 78 tahun itu menjadi Paus baru. Ia adalah Paus tertua sepanjang 275 tahun terakhir setelah Paus Clement XII, yang di tahun 1730 terpilih sebagai Paus di usia yang sama 78 tahun.

Ratzinger merupakan Paus ke-8 yang berasal dari Jerman. Ia juga Paus ke-3 setelah Clement II dan Victor II yang berasal dari Jerman, menurut teritori Jerman yang dikenal sekarang. Karenanya ia adalah Paus terakhir yang berasal dari Germanic (gabungan Belanda dan Jerman), setelah Paus Adrian VI yang terpilih tahun 1522 (dan meninggal tahun 1523).

Sebagian pihak menilai Benediktus XVI sebagai seorang paus yang tradisional, sebagian lagi malah menyebutnya ortodoks. Sebagai misal, ia sangat kritis dan menolak perilaku hidup kaum homoseksual, perkawinan sesama gay, dan tindakan aborsi sebagaimana sikap sang pendahulu Paus Yohanes Paulus II.

Paus Benediktus XVI menguasai bahasa Jerman, Italia, Inggris, Latin dan Perancis. Sejak tahun 1992 ia adalah anggota French Academie. Ia tergolong piawai memainkan alat musik piano, sejak di seminari dan sangat menyukai musik Mozart dan Beethoven.

Majalah Time edisi bulan April 2005 menyebut nama Joseph Ratziznger sebagai satu dari antara 100 orang paling berpengaruh di dunia. Pilihan itu terbukti benar, sebab sejak 19 April 2005 orang yang dimaksud telah menjadi Paus menggantikan Paus Yohanes Paulus II.

Berikan berkat pertama
Ketika berbicara kepada khalayak ramai yang memadati halaman Basilika Santo Petrus, Kardinal Jorge Medina Estevez dari Cile yang muncul dari balkon mengatakan:

“Annuntio vobis gaudium magnum;
habemus Papam:
Eminentissimum ac Reverendissimum Dominum,
Dominum Josephum
Sanctae Romanae Ecclesiae Cardinalem Ratzinger
qui sibi nomen imposuit Benedictum XVI.”

Atau: “I announce to you great joy: We have a Pope! The most Eminent and Reverend Lord, the Lord Joseph, Cardinal of the Holy Roman Church Ratzinger, who takes to himself the name of Benedict the sixteenth.”

Dari balkon yang sama itu pulalah Paus Benediktus XVI untuk pertama kali berbicara kepada umat Katolik di seluruh dunia. “Saudara-saudaraku, setelah Paus Yohanes Paulus II yang Agung, para kardinal telah memilih saya, yang sederhana, pelayan yang bersahaja di hadapan Tuhan. Saya bergembira karena Tuhan tahu apa yang harus Dia lakukan dan kerjakan meski dengan peralatan yang tidak memadai.

Saya memercayakan dalam doa Saudara-saudara sekalian. Dalam kegembiraan kebangkitan Tuhan dan kepercayaan dalam bantuannya yang terus-menerus, kita akan terus maju. Tuhan akan menolong kita dan Bunda Maria, Ibu-Nya yang tersuci, akan senantiasa mendampingi kita sekalian. Terimakasih.”

Paus baru itu kemudian memberikan berkat kepausannya yang pertama untuk kota dan dunia (urbi et orbi)

Sumber :
http://tokohindonesia.com/aneka/tokohdunia/paus-benediktus-xvi/index.shtml

No comments:

Lencana Facebook