6/03/2008

Bagaimana Kita memandang

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka larut dalam obrolan ringan. “ Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda. “Oh …. Saya mau ke Jakarta terusconneting flight ke Singapore nengokin anak saya yang ke-2”, jawab ibu itu. “Wouw… hebat sekali putra ibu,” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

“Kalau saya tidak salah,anak yang di Songapore tadi, putra yang kedua yabu? Bagaimana dengan kakak dan adik-adiknya?”, sambung pemuda tersebut.

“Oh ya tentu,” si Ibu bercerita. “Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-5 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke-6 menjadi dosen di Semarang.”

Pemuda tadi diam dan berpikir hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke enam. “Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?”

Sambilmenghela nafas panjang, ibu itu menjawab,”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda tersebut langsung menyahut,” Maaf ya Bu…. Kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaanya, sedang dia menjadi petani?”

Do you want to know the answer?? Dengan tersenyum ibu itu menjawab,”Oooo…. Tidak, tidak begitu nak…. Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”. (Cetivasi)

No comments:

Lencana Facebook